PotretNews.com Kamis 30 Maret 2017
Home >  Artikel >  Serbaneka

Kisah Sukses ”Ucok Durian” yang Melegenda di Medan hingga Berburu Durian Berkualitas Nomor Satu sampai ke Riau

Kisah Sukses ”Ucok Durian” yang Melegenda di Medan hingga Berburu Durian Berkualitas Nomor Satu sampai ke Riau

Kedai durian milik Ucok di Kota Medan yang melegenda.

Kamis, 22 September 2016 21:10 WIB
MEDAN, POTRETNEWS.com - Kata orang “Belum ke Medan kalau tidak mampir ke Ucok Durian”. Ungkapan itu muncul karena merek warung durian milik Zainal Abidin atau karib disapa Ucok sudah melegenda sekarang.Kedai Ucok memang bisa dibilang cukup berumur, sudah puluhan tahun. Meski demikian, namanya baru tenar dalam hitungan 10 tahun belakangan.

Dulu, Ucok juga merangkak dari bawah, memulai berjualan durian dari kaki lima. Jangan dilihat kondisi sekarang.

“(Sekarang), banyak yang datang ke sini. Ada pejabat, artis, ya macam-macam,” ujar Ucok saat ditemui di kedainya, Kamis (25/8/2016). Kalau dirunut sejarahnya, kata Ucok, ia sudah berhadapan dengan durian sejak 34 tahun lalu. Namun, dia baru punya usaha sendiri sejak sekitar 25 tahun lalu.

Ads
Sukses jelas tidak datang begitu saja. Laiknya bisnis lain, kata Ucok, ada jatuh bangun dalam dia berjualan durian ini. “Usaha macam ini dulu kalau mau tambah modal dengan pinjam uang dari bank pasti tidak bisa. Mana ada bank yang percaya warung durian bisa besar dan menguntungkan,” ungkap Ucok sembari tertawa.

Ucok teringat kembali saat-saat awal memulai warung duriannya. Mencari nafkah dari buah dengan kulit tebal berduri itu dilakoninya sejak ia putus sekolah.

Teman-teman seusianya kala itu masih belajar di bangku sekolah menengah pertama (SMP), Ucok sudah berjualan durian. “Pada 1980-an an awal, saya bantu-bantu para penjual durian di sepanjang Jalan Iskandar Muda, Medan,” kata Ucok.

Saat itu, lanjut Ucok, pedagang adalah petani yang menjual hasil panennya dan pedagang biasa yang membeli durian dari kebun-kebun milik petani di Sumatera. “Mereka tidak jualan tiap hari. Jadi kalau ada musimnya saja,” ujar dia.

Di sana, tugas Ucok adalah mengangkut durian. Agar penghasilannya bertambah, ia tak hanya membantu satu orang tetapi sekaligus banyak pedagang.

“Satu hari bisa dapat Rp 2.500 sampai Rp 10.000. Saat itu, uang segitu sudah besar dan bisa ditabung. Saya pikir lumayan juga ya asyik jual durian untungnya pasti banyak, bisa lima kali lipat yang saya dapat,” tutur Ucok tentang awal kepikiran berjualan durian sendiri.

Sejak itu, kesempatan jadi kuli angkut dimanfaatkan Ucok untuk sekalian belajar. Pedagang-pedagang durian itu kerap mengajak Ucok keliling kampung untuk mencari daerah mana yang sedang musim.

Sampai akhirnya, pada 1990an, Ucok mantap buka usaha. “Nah kenapa saya bisa jualan setiap hari sekarang seakan-akan di Medan selalu ada musim durian? Ilmunya dari sana,” imbuhnya.

Dari hasil belajar saat muda itulah, Ucok tahu kalau durian Medan “punya musim” setiap Juni sampai November. Nah di bulan lainnya, ia cari durian dari kota lain seperti Pekanbaru (maksudnya Riau), Padang, dan Jambi.

Selain mencermati “musim” durian per lokasi, Ucok juga menjaga hubungan baik dengan para petani dan tengkulak durian untuk memastikan pasokan. Saat “musim” durian meleset, mereka yang membantu Ucok mencari pasokan.

Rahasia Durian Ucok Laris Manis
Saat ini, warung durian Ucok memasok 6.000 buah durian setiap hari. Dari jumlah itu, penjualan dia sebut bagus kalau laku 3.000-an durian per hari.

Resep suksenya, durian yang dirasa pembeli tak enak bisa ditukar. Tidak ada tambahan harga. “Kalau tidak enak atau tak sesuai selera bilang ya. Bisa ditukar. Sekarang kami tidak lagi bicara beli kucing dalam karung. Makan durian harus sesuai selera,” tegas Ucok sambil meladeni pembeli.

Nah bagaimana nasib durian-durian yang terlanjur dibuka tetapi tak sesuai selera pembeli? Rupanya Ucok punya cara sendiri. Durian yang tak sesuai selera pembeli dia pasok ke usaha rumahan pembuat aneka camilan berbahan dasar buah durian.

“Saya jual lagi pada pengusaha es krim, pancake, lempok, dan macam-macam (camilan lain) dengan harga miring,” ungkap Ucok. Dengan begitu, kata Ucok, tak ada durian yang terbuang percuma. Selain itu, nilai lebih dari warung milik Ucok adalah buka 24 jam. Tak disangka, itu jadi dayatarik tersendiri.

Kini, per hari Ucok bisa menjual minimal 1.000 buah durian. Harga yang ditawarkan variatif, mulai dari Rp 20.000 sampai Rp 50.000, tergantung ukuran dan rasa.

Ide Bisnis
Berbicara ide bisnis, pikiran Ucok lempang saja. Sejak dulu, kata dia, Medan terkenal akan duriannya yang memiliki dua cita rasa, yaitu manis legit dan pahit. Maka, pikir Ucok, di Medan sudah semestinya durian bisa dihadirkan tiap waktu.

“Saya buka lapak kaki lima di pinggir jalan. Modal awal Rp 5 juta. Meskipun pinggir jalan, saya sudah menerapkan julan 24 jam dan boleh tukar kalau tak sesuai selera,” tuturnya.

Rupanya, durian yang dijajakan cukup laris sehingga usahanya berkembang. Ucok berpikir agar memiliki lokasi jualan permanen. “Sayangnya modal untuk buka warung permanen besar. Sempat mengajukan pinjaman ke bank tetapi ditolak. Akhirnya pelan-pelan saja kumpulkan sampai bisa juga punya warung,” ujarnya.

Bagi Ucok, yang terpenting adalah tekun dan tidak mudah menyerah. “Bisnis itu yang penting harus fokus jangan ikut-ikutan yang musim. Betul-betul usaha, jangan menyerah dan jangan menipu orang,” katanya lagi.

Setelah punya warung dan namanya besar, mulai banyak pengusaha durian di Medan yang mengikuti konsep warung seperti Ucok. “Banyak yang tiru, tetapi kami tetap tiga langkah di depan kan?” ujar Ucok sambil tertawa.

Bahkan, ada yang mengejutkan, kata Ucok. Saat ini bank-bank di Sumatera Utara mulai melirik pengusaha-pengusaha durian. Mereka mendukung para pebisnis durian untuk mengembangkan usahanya.

“Saya pun sekarang mendapat pinjaman dari bank untuk pengembangan. Eh tetapi masih lebih banyak uang kami (untuk modal) daripada pinjamannya. Bisnis jangan banyakan pinjaman daripada uang sendiri,” tukas Ucok.

Inovasi pun berlanjut. Ucok mengawali pula terobosan untuk bisa memasukkan durian ke pesawat terbang. Dengan inovasi ini, durian Medan bisa sampai sampai ke kota lain di Indonesia, bahkan ke negara tetangga.

"Masa durian Thailand bisa masuk ke Indonesia, durian Medan tidak bisa?" ujar Ucok lugas soal motivasinya membuat inovasi tersebut.

Editor:
Farid Mansyur

Sumber:
Tribunnews.com

loading...
Kategori : Serbaneka
www www